PELATIHAN KADER KESEHATAN PENYAKIT MENULAR DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KREBET KABUPATEN MADIUN

Diposting pada: 2017-01-16, oleh : Ali Haidarillah, Kategori: Agenda Perguruan Tinggi

 

Dony Noerliani1), Atni Supratiwi2)

1Program D3 Keperawatan, Akademi Keperawatan Madiun

Email: dn_noer@yahoo.co.id

2Program D3 Keperawatan, Akademi Keperawatan Madiun

Email: atni_supratiwi@yahoo.com

 

Abstract

Introduction: HIV / AIDS has become an international issue because of HIV / AIDS has been attacking humans nearly every corner of the world. Leprosy is a contagious disease that can lead to complex problems. Result of Household Health Survey (Household, 2010) in Indonesia in 2010 showed that the disease of pulmonary tuberculosis cause death, number three in all age groups as well as number one from the class of infectious diseases, From the description of the infectious diseases program of East Java province requiring community involvement comprehensive as preventive efforts. The aim of this devotion for Enhancing knowledge, positive attitudes and skills of trainees (village health workers) related to the implementation of health programs. Methods: In a family mentoring training activities with health problems of infectious diseases, every resource using varied learning methods include: lectures, discussion, role play and simulation. Results and Analysis: training of health cadres communicable diseases begins with the conduct of pre-test conducted by the committee and then continued with the opening of training. The event runs smoothly, all the trainees take part to the last. At the end of the training carried out post-test to trainees by the committee. Then proceed with the closing ceremony of the training of health cadres communicable diseases (pulmonary TB, leprosy, hiv-aids). Discussion: the process of implementation of the training mentoring families with health problems of infectious diseases  is a form of community service activities by faculty Nursing Academy Madiun.

 
Keywords: family counseling training, TB, Leprosy, HIV-aids

 

  1. PENDAHULUAN

Tri Dharma Perguruan Tinggi menuntut setiap insan akademika agar mampu berfikir secara holistic dalam memandang setiap langkah hidup.Salah satunya adalah pengabdian yang tulus kepada masyarakat.Pengabdian kepada masyarakat adalah kegiatan civitas akademika yang memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memajukan kesejahteraan masyarakat dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur, Akademi Keperawatan Madiun melalui Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat  (P3M) berupaya mewujudkan tujuan ini dalam bentuk pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat sebagai upaya untuk mendukung program Pemerintah Provinsi Jawa Timur  dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit menular dan tidak menular yang meliputi penyakit TBC, penyakit kusta, penyakit HIV/AIDS dan penyakit Jiwa melalui Upaya Kesehatan Masyarakat.

Hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT, 2010) di Indonesia tahun 2010 menunjukkan bahwa penyakit TB paru merupakan penyebab kematian nomer tiga  pada pada semua kelompok usia serta  nomor satu  dari golongan penyakit infeksi, (Depkes RI,2008). Penderita TB paru di Jawa Timur menempati urutan ke 2 setelah Jawa Barat dengan jumlah kasus  37.000 penderita (Depkes RI, 2007). Di wilayah kabupaten Madiun terdapat lebih dari 230 kasus dengan angka kematian rata-rata 10 orang setiap bulannya.Keberhasilan pengobatan penyakit TB paru tergantung pada informasi yang intensif dari petugas kesehatan kepada penderita maupun keluarganya.Hal ini dapat berdampak pada tingkat kepatuhan pasien untuk minum obat. Selanjutnya jika masalah ini terus dibiarkan akan terjadi resistensi kuman terhadap pengobatan (OAT) yang berdampak pada pengendalian dan pengobatan TB paru akan semakin sulit dilaksanakan dan angka kematian akan terus bertambah.

Penyakit HIV/AIDS merupakan issue sensitive di bidang kesehatan. HIV/AIDS telah menjadi issue internasional karena HIV/AIDS telah menyerang manusia hampir diseluruh penjuru dunia. Meskipun upaya untuk menekan laju kematian akibat AIDS dapat dikendalikan namun penemuan baru infeksi HIV dan kasus AIDS masih terus bertambah. Propinsi Jawa Timur berdasarkan jumlah kasus AIDS kumulatif terbanyak nomor dua (2) di Indonesia sebanyak 4598 kasus AIDS setelah provinsi DKI Jakarta, (Kemenkes RI,2012). Kasus HIV/AIDS di kabupaten Madiun juga kian mengkhawatirkan.Catatan KPAD setempat, sejak tahun 2002 ditemukan sebanyak 276 penderita.Dari jumlah tersebut 100 diantaranya meninggal. Versi KPA Jawa Timur, angka itu menempatkan Kabupaten Madiun di urutan ke sepuluh kasus HIV/AIDS tertinggi dari 38 kota dan kabupaten di Jawa Timur, (Radar Madiun, 29 Maret 2014, h.6). Hasil temuan kasus  HIV/AIDS per Desember 2014 di kabupaten Madiun sebanyak 322 kasus, 124 kasus berstatus HIV dan 198 kasus adalah AIDS dengan jumlah terbesar pada kelompok usia 31 tahun sampai dengan 45 tahun sebanyak 46,89%, ( P2UK Dinkes Kab. Madiun,2014).  Tahun 2015 Hasil temuan kasus HIV per Desember  2015 sebanyak 410 kasus, 163 kasus berstatus HIV dan 247 kasus adalah AIDS dengan jumlah terbesar  masih pada rentang usia 31 tahun sampai dengan 45 tahun sebesar 47, (P2UK Dinkes Kab. Madiun, 2015). Salah satu kendala dalam pengendalian penyakit HIV/AIDS adalah stigma dan deskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS, yang berdampak pada kwalitas hidup Odha, dimana peningkatan kwalitas hidup Odha merupakan salah satu tujuan dari Strategi Rencana Aksi Nasioanl (SRAN) penanggulangan AIDS, (KPA,2010).

Penyakit kusta merupakan salah satu penyakit menular yang dapat menimbulkan masalah kompleks. Sepanjang tahun 2013 tercatat 16.856 kasus baru kusta di Indonesia, angka ini menempatkan Indonesia pada peringkat ketiga dunia, (Kemenkes RI, 2013). Sebagai upaya menekan laju perkembangan penyakit kusta diperlukan upaya penemuan kasus secara dini oleh masyarakat dengan mengubah pola fikir. Stigma dan diskriminasi seringkali menghambat penemuan kasus secara dini untuk itu dibutuhkan motivasi dan komitmen yang kuat baik dari penderita maupun masyarakat.

Dari uraian tentang penyakit menular  program prioritas Propinsi Jawa Timur diatas maka diperlukan keterlibatan masyarakat secara luas sebagai upaya penanggulangannya. Keterlibatan masyarakat dapat dilakukan dengan mengikutsertakan kader kesehatan. Kader merupakan tenaga masyarakat yang dianggap paling dekat dengan masyarakat yang peduli terhadap kesehatan warga sekitarnya, sehingga dengan adanya kader kesehatan, pelayanan kesehatan yang selama ini dikerjakan oleh petugas kesehatan dapat dibantu oleh masyarakat, selain itu pesan-pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik.

Melalui kegiatan pengabdian masyarakat oleh dosen beserta mahasiswa Akper Madiun dengan sasaran pada pemberdayaan kader kesehatan  penyakit menular (TB paru, kusta dan HIV/AIDS) di wilayah kerja Puskesmas Krebet yang merupakan daerah binaan Akper Madiun  diharapkan dapat membantu pihak-pihak terkait khususnya Puskesmas Krebet untuk menanggulangi masalah kesehatan yang dihadapinya saat ini untuk mendukung upaya pencegahan dan penanggulangan kasus-kasus penyakit menular di masyarakat sehingga derajad kesehatan masyarakat yang optimal sesuai dengan tujuan kesehatan dapat tercapai.

 

  1. KAJIAN LITERATUR
  1. Konsep Pengabdian Masyarakat di Akper Madiun

KegiatanPengabdianPadaMasyarakatAkademi Keperawatan Madiun adalah pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna, agar kemampuan masyarakat meningkat sehingga terentas dari keterbelakangan masalah kesehatan. Kegiatan Pengabdian Pada Masyarakat didasarkan pada permasalahan aktual di masyarakat untuk dikembangkan menjadi program penelitian /pendidikan inter-disipliner yang hasilnya dapat dirasakan oleh masyarakat. Kegiatan Pengabdian Pada Masyarakat harus memberi manfaat bagi masyarakat, Perguruan Tinggi dan sivitas akademika, (Panduan Pengabmas Akper madiun, 2016).

 

 

  1. Konsep penyakit TB paru

Tuberculosis paru adalah penyakit akibat infeksi kuman mycobakterium tubercolosis sistemis sehingga dapat mengenai hampir semua organ tubuh, dengan lokasi terbanyak diparu yang biasanya merupakan infeksi primer. Tuberculosis merupakan bakteri kronik dan ditandai oleh pembentukan granuloma pada jaringan yang terinfeksi dan hipersensivitas yang diperantarai sel (Cell Madiated Hipersensivity) (Mansjoer Arif, 2000).

  1. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Tubercolusis
  1. Harus ada sumber infeksi : Sumber infeksi dapat berasal dari pasien TB parudengan BTA positif yang ditularkan melalui droplet. Baik itu melalui penggunaan alat makan secara bergantian tanpa dicuci terlebih dahulu ataupun pada waktu pasien batuk atau bersin.
  2. Jumlah basil sebagai penyebab infeksi harus cukup : Semakin banyak jumlah basil yang terhirup, maka semakin besar kemungkinan seseorang untuk mengidap penyakit tubercolusis.
  3. Virulensi yang tinggi dari basil tubercolusis : Apabila tingkat keaktifan kuman tinggi maka akan semakin cepat berkembang biak didalam tubuh. Selain itu akan semakin cepat pula massa inkubasinya.
  4. Daya tahan tubuh yang menurun : Daya tahan tubuh yang menurun memungkinkan basil berkembang biak dan keadaan ini menyebabkan timbulnya penyakit tubercolusis yang baru, (Mansjoer Arif,2000).
  1. Gejala Tuberculosis Paru adalah sebagai berikut :
  1. Batuk lama atau batuk darah : Batuk terjadi karena adanya infeksi pada bronkus. Batuk ini diperlukan membuang produk-produk radang keluar. Sifat batuk dimulai dari batuk kering (non produktif) kemudian setelah terjadi peradangan menjadi produktif hal ini berlangsung 3 minggu atau lebih. Keadaan lanjut adalah terjadinya batuk darah karena terdapat pembuluh darah yang pecah. Yang merupakan tanda adanya ekskavasi dan ulserasi dari pembuluh darah pada dinding kavitas. Kematian dapat terjadi karena penyumbatan bekuan darah pada saluran nafas (Soeparman, 1990)
  2. Demam : Dimulai dengan demam subfebris seperti influenza. Terkadang panas mencapai 40-41*C. Keadaan ini sangat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh pasien dan berat ringannya infeksi kuman tuberculosis yang masuk (Soeparman,1990)
  3. Sesak nafas : Sesak nafas ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut, dimana ilfiltrasinya sudah setengah bagian paru (Depkes RI, 2002)
  4. Nyeri dada : Terjadi bila ilfiltrasinya radang sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis (Depkes RI, 2002)
  5. Malaise (Badan lemah) : Penyakit tuberculosis paru adalah penyakit radang yang bersifat menahan nyer otot dan keringat dimalam hari. Gejala-gejala tersebut makin lama makin berat dan terjadi hilang timbul secara tidak teratur (Soeparman, 1990)

 

  1. Konsep penyakit HIV/AIDS

     HIV adalah retrovirus yang termasuk golongan virus RNA yaitu virus yang menggunakan RNA sebagai molekul pembawa genetic. Sebagai retrovirus, HIV memiliki sifat khas karena memiliki enzim reverse transcriptase, yaitu enzim yang memungkinkan virus merubah informasi genetiknya yang berada dalam RNA ke dalam bentuk DNA yang kemudian diintegrasikan ke dalam informasi genetic sel limfosit yang diserang. Dengan demikian HIV dapat memanfaatkan mekanisme sel limfosit untuk mengkopi dirinya menjadi virus baru yang memiliki ciri-ciri HIV (Depkes, 2006).

Acquired Immune Deficiency Syndrom (AIDS) merupakan kumpulan gejala penyakit  yang disebabkan oleh Human Imunodeficiency Virus (HIV). HIV ditemukan dalam cairan tubuh terutama pada darah, cairan sperma, cairan vagina, air susu ibu. Virus tersebut merusak system kekebalan tubuh manusia dan mengakibatkan turunya atau hilangnya daya tahan tubuh sehingga mudah terjangkit penyakit. (Depkes RI, 2006).

Menurut KPAD Dinkes Prop. Jatim 2011, secara umum tanda-tanda utama yang terlihat pada seseorang yang sudah sampai pada tahapan AIDS adalah :

  1. Berat badan menurun lebih dari 10 % dalam waktu singkat ( kurang lebih enam bulan)
  2. Demam tinggi berkepanjangan (lebih dari satu bulan)
  3. Diare berkepanjangan (lebih dari satu bulan)

Sedangkan gajala-gejala tambahan berupa :

  1. Batuk berkepanjangan (lebih dari satu bulan)
  2. Kelainan kulit dan iritasi (gatal)
  3. Infeksi jamur pada mulut dan kerongkongan
  4. Pembengkakan kelenjar getah bening diseluruh tubuh, seperti di bawah telinga, leher, ketiak dan lipat paha (KPAD Dinkes Prop. Jatim, 2011)

Cara penularan HIV/AIDS dapat terjadi melalui :

  1. Lewat darah

Melalui transfuse darah/produk darah yang sudah tercemar HIV. Lewat pemakaian jarum suntik yang sudah tercemar HIV, yang dipakai bergantian tanpa disterilkan misalnya pemakaian jarum suntik di kalangan pengguna narkotika suntik, pemakaian jarum suntik yang berulang kali dalam kegiatan lain misalnya penyuntikan obat, imunisasi, pemakaian alat tusuk yang menembus kulit, misalnya alat tindik, tato dan alat facial wajah.

  1. Lewat cairan mani dan cairan vagina

Melalui hubungan sek penetrative (penis masuk kedalam vagina/anus), tanpa menggunakan kondom sehingga memungkinkan kontak cairan mani atau cairan vagina atau kontak cairan mani yang terjadi dalam hubungan seks lewat anus.

  1. Lewat air susu ibu

Penularan ini dimungkinkan dari seorang ibu hamil yang HIV positif dan melahirkan lewat vagina, kemudian menyusui bayinya dengan ASI. Kemungkinan penularan dari ibu ke bayi (Mother to Child Transmision) ini berkisar hingga 30 % artinya dari setiap 10 kehamilan dari ibu HIV pisitif kemungkinan ada 3 bayi yang terlahir dengan HIV positif (KPAD Dinkes Prop. Jatim, 2011).

KPAD Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur (2011), menyatakan bahwa upaya untuk melindungi diri dari infeksi HIV/AIDS adalah sebagai berikut :

  1. Tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah
  2. Setelah menikah, setialah pada pasangan
  3. Gunakan kondom, apabila pasangan anda adalah HIV positif
  4. Janganlah melakukan hubungan seks dengan orang yang berperilaku seks beresiko, misalnya pekerja seks
  5. Janganlah teribat narkotika dan pemakaian jarum suntik bersama-sama.
  6. KIE

 

  1. Konsep penyakit Kusta

Kusta merupakan penyakit infeksi kronik dengan penyebab microbacterium leprae yang bersifat intraselular obligat. Saraf perifer sebagai afinitas pertama, lalu kulit dan mukosa traktus respiratorius bagian atas, kemudian dapat ke organ lain kecuali susunan saraf tepi, (Amirudin, 2006).

Gejala klinis kusta biasanya menunjukkan gambaran yang jelas pada stadium lanjut dan didiagnosis cukup ditegakkan dengan pemeriksaan fisik aja, (Kemenkes RI, 2012).

Timbulnya penyakit kusta pada seseorang membutuhkan waktu yang relative lama, tergantung dari beberapa factor antara lain :

  1. Factor penyebab

Kuman kusta dapat bertahan hidup diluar tubuh manusia sekitar 1-9 hari tergantung pada suhu atau cuaca hanya kuman yang masih utuh atau solid yang dapat menimbulkan penularan, selain itu kuman kusta juga mempunyai waktu pembelahan yang lama yaitu sekitar 2-3 minggu

  1. Factor sumber penularan

Penderita kusta tipe MB dianggap sebagai satu-satunya sumber penularan penyakit kusta meskipun kuman kusta dapat hidup di hewan armadillo, simpase dan telapak kaki tikus putih. Penderita tipe MB ini apabila sudah minum obat sesuai regimen WHO secara teratur tidak menjadi sumber penularan lagi.

  1. Factor daya tahan tubuh

Sebagian besar manusia kebal terhadap penyakit kusta (95%). Seseorang dalam lingkungan tertentu termasuk dalam salah satuu dari tiga kelompok berikut :

  1. Manusia yang mempunyai kekebalan tubuh tinggi, merupakan kelompok terbesar yang telah atau menjadi resisten terhadap kuman kusta
  2. Manusia yang mempunyai kekebalan tubuh rendah terhadap kuman kusta mungkin akan menderita penyakit kusta yang ringan
  3. Manusia yang tidak mempunyai kekebalan terhadap kuman kusta merupakan kelompok kecil dan mudah menderita kusta yang stabil dan progresif (kemenkes RI, 2012).

 

  1. Konsep kader kesehatan

Kader kesehatanmerupakan pembawa misi pembangunan kesehatan ditingkat paling bawah. Kader adalah kepanjangan tangan dari Puskesmas atau Dinas Kesehatan kepada masyarakat di wilayah kerjanya. Seorang kader kesehatan merupakan teaga sukarela yang berasal dari masyarakat yang peduli terhadap kesehatan warga sekitarnya. Sampai saat ini kader kesehatan terkadang menjadi sumber rujukan bagi penanganan berbagai masalah kesehatan (Kusumawati, 2008).

Kader kesehatan dikatakan berhasil dalam memfasilitasi proses pemberdayaan masyarakat apabila diwujudkan melalui peningkatan partisipasi aktif masyarakat. Oleh karena itu sebagai fasilitator harus trampil mengintegrasikan tiga hal penting yakni optimalisasi fasilitasi, waktu yang disediakan dan optimalisasi partisipasi masyarakat.

 

  1. METODE PELAKSANAAN

Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh dosen beserta mahasiswa Akper Madiun tahun 2016 dilaksanakan melalui Pelatihan Pemberdayaan kader kesehatan penyakit menular (tb paru, kusta dan hiv-aids), dengan sasaran warga masyarakat laki-laki maupun perempuan yang dipilih oleh masyarakat dan dilatih untuk menangani masalah-masalah kesehatan perseorangan maupun masyarakat, dapat bekerja secara sukarela, dan berdomisili di wilayah kerja puskesmas Krebet Kecamatan Pilangkenceng Kabupaten Madiun. Adapun persyaratan umum bagi kader kesehatan dimaksud adalah :

  1. Sanggup bekerja secara sukarela
  2. Mendapatkan kepercayaan dari masyarakat serta mempunyai kredibilitas yang baik dimana perilakunya menjadi panutan masyarakat
  3. Memiliki jiwa pengabdian yang tinggi
  4. Pendidikan minimal SMA atau sederajat
  5. Sanggup membina masyarakat sekitarnya

Pemberi materi pada pelatihan pendampingan keluarga dengan masalah kesehatan penyakit menular (pelatihan kader kesehatan penyakit tb paru, kusta dan hiv-aids) adalah Tim dari bidang P2 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Tim dari bidang P2UK Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun, Ka- UPT RSP Manguharjo Madiun, dosen Akper Madiun, perawat penanggung jawab program Puskesmas Krebet kabupaten Madiun dan mahasiswa AkperMadiun.

Pada pelatihan kader kesehatan penyakit menular (tb paru, kusta dan hiv-aids) ini, setiap nara sumber menggunakan methode pembelajaran yang bervariatif meliputi : ceramah, tanya jawab, role play, dan simulasi. Berikut merupakan metode yang digunakan pada masing-masing kelompok:

  1. Untuk kelompok penyakit tb paru, methode pembelajaran yang dipakai adalah ceramah, tanya jawab, penyuluhan dan role play penjaringan suspect penyakit tb paru oleh peserta pelatihan
  2. Kelompok penyakit kusta methode pembelajarannya adalah ceramah, tanya jawab, simulasi deteksi dini penyakit kusta, role play,  pemeriksaan fisik pada penderita kusta  dan penyuluhan tentang penyakit kusta oleh peserta pelatihan
  3. Pada kelompok penyakit HIV/AIDS, methode pembelajaran yang dipakai adalah  ceramah, tanya jawab, latihan penyuluhan oleh peserta, dan simulasi pemulasaraan jenazah yang kemudian dilanjutkan praktik oleh peserta pelatihan.

Materi yang diberikan pada pelatihan kader kesehatan penyakit menular (Tb paru, kusta dan HIV/AIDS) meliputi :

  1. Pada hari pertama kegiatan, semua peserta pelatihan yang berjumlah 40 orang mengikuti semua materi penyakit TB paru, kusta dan HIV/AIDS. Materi yang diberikan meliputi : analisis situasi penyakit tb paru, penyakit kusta, dan penyakit HIV/AIDS di Jawa Timur, pencegahan penyakit Tb paru, kusta, dan HIV/AIDS, system pelaporan penemuan penyakit, dan peran kader kesehatan desa.
  2. Hari kedua kegiatan pelatihan peserta pelatihan membagi diri sesuai dengan kelompok penyakit.
    1. Untuk kelompok penyakit TB paru dibagi menjadi tiga kelompok dan masing-masing anggota kelompok terdiri dari enam orang dengan materi ajar penjaringan suspect penyakit tb paru yang dilakukan secara role play, manajemen batuk dan penyuluhan yang dilakukan bergantian di masing-masing kelompok.
    2. Penyakit kusta hanya satu kelompok yang terdiri dari 10 peserta dengan materi simulasi langsung kepada pasien kusta yang diundang ke tempat pelatihan untuk dilakukan deteksi dini dan perawatan sehari-hari pasien kusta. Pasien kusta yang dipilih adalah pasien yang kooperatif dan sudah selesai pengobatan selama dua bulan.
    3. Penyakit HIV/AIDS, jumlah peserta pelatihan 12 orang dan terbagi menjadi dua kelompok, materi ajar yang diberikan meliputi praktik pemulazaraan jenazah pasien HIV/AIDS dan penyuluhan tentang penyakit hiv-aids yang dilakukan oleh peserta secara bergantian di masing-masing kelompok.

 

  1. HASIL DAN PEMBAHASAN

Acara pelatihan pemberdayaan kader kesehatan penyakit menular (TB paru, kusta, HIV/AIDS) diawali dengan  pelaksanan pre test yang dilakukan oleh panitia kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembukaan pelatihan. Pada acara pembukaan dihadiri oleh camat kepala wilayah kecamatan Pilang Kenceng kabupaten Madiun, yang diwakili oleh sekretris kecamatan, direktur Akper Madiun, perwakilan Dinas Kesehatan kabupaten Madiun, kepala Puskesmas Krebet, kepala Puskesmas Pilang Kenceng, kepala desa Ngale, kepala desa Muneng, kepala desa Pulerejo, kepala desa Pilangkenceng, kepala desa Kedungbanteng, kepala desa Purworejo, kepala desa Luworo, kepala desa Krebet, kepala desa Wonoayu, perwakilan Puskesmas Krebet, panitia kegiatan pelatihan Akper Madiun, perwakilan mahasiswa Akper Madiun, perangkat desa Ngale  dan peserta pelatihan pemberdayaan kader kesehatan penyakit menular tb paru, kusta, hiv-aids. Acara pembukaan diakhiri dengan penyerahan kotak P3K kepada 9 desa di wilayah kerja puskesmas Krebet dan masing-masing desa mendapatkan 2 kotak P3K.

Selama pelaksanaan kegiatan pelatihan pemberdayaan  kader kesehatan (penyakit TB paru, kusta dan HIV/AIDS), acara berjalan lancar sesuai yang diharapkan, semua peserta pelatihan mengikuti kegiatan sampai hari terakhir. Pada akhir pelatihan dilakukan post test terhadap peserta pelatihan oleh panitia. Kemudian dilanjutkan dengan acara penutupan pelatihan pemberdayaan kader kesehatan penyakit menular (TB paru, kusta, HIV/AIDS) yang dihadiri oleh  direktur Akper Madiun, kepala Puskesmas Krebet, nara sumber dari Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur, nara sumber dari Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun, perwakilan mahasiswa Akper, panitia kegiatan Akper Madiun, perwakilan Puskesmas Krebet, dan peserta pelatihan.

Pada acara penutupan diberikan sertifikat pelatihan pemberdayaan  kader kesehatan (penyakit TB paru, kusta dan HIV/AIDS) pada masing-masing peserta pelatihan serta pemberian hadiah kepada 3 peserta terbaik dari 3 kelompok penyakit menular dengan kriteria penilaian keaktifan selama proses kegiatan pelatihan. Peserta pelatihan terbaik adalah :

  1. Sulistyowati, peserta pelatihan kader kesehatan penyakit kusta dari desa Purworejo
  2. Sumiyatun, peserta pelatihan kader kesehatan penyakit tb paru dari desa Wonoayu
  3. Sriani, peserta pelatihan kader kesehatan penyakit hiv-aids dari desa Muneng

Pelatihan pemberdayaan kader kesehatan merupakan salah satu upaya untuk menggerakkan masyarakat agar berperan aktif dalam pencegahan dan penanggulangan kasus-kasus penyakit menular. Proses pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan seringkali terkendala apabila tidak didukung peran aktif dari masyarakat sendiri.

 

  1. KESIMPULAN

Pelatihan pemberdayaan kader kesehatan penyakit menular tb paru, kusta dan hiv-aids yang dilaksanakan di Balai Desa Ngale Kecamatan Pilangkenceng Kabupaten Madiun diikuti oleh 40 kader kesehatan dari 9 desa di wilayah kerja puskesmas Krebet kecamatan Pilangkenceng kabupaten Madiun. Sembilan desa yang dimaksud adalah desa Pulerejo, desa Muneng, desa Ngale, desa Purworejo, desa Pilangkenceng, desa Luworo, desa Kedungbanteng, desa Krebet, dan desa Wonoayu.Dari 40 peserta terbagi menjadi tiga kelompok penyakit yaitu 18 orang merupakan kader kesehatan penyakit tb paru, 10 orang kader penyakit kusta, dan 12 orang kader kesehatan penyakit hiv-aids.

Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pengabdian masyarakat dosen Akper Madiun untuk peningkatan kualitas penyelenggaraan Upaya Kesehatan Masyarakat dengan melibatkan peran serta masyarakat agar dapat mewujudkan derajad kesehatan masyarakat yang optimal.

 

  1. REFERENSI

Amirudin, M. 2005. Kusta. FKUI. Jakarta.

 

Direktorat  Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan RI. 2006. Pedoman Nasional Perawatan dan Pengobatan bagi ODHA; Buku Pedoman untuk Petugas Kesehatan dan Petugas Lainnya. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

 

KPAD Propinsi Jawa Timur.  2011. Mengenal dan Menanggulangi HIV/AIDS Infeksi menular Seksual dan Narkoba. Dinkes Propinsi Jawa Timur.

 

Kusumawati, Y. Pelatihan Peningkatan Kemampuan Kader Posyandu dalam Penanggulangan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kelurahan Joyotakan Kecamatan Serengan Surakarta. Warta. 11 (2) : 159-169.

 

Manjoer, A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. vol.1. edk 2. Medika Aesculapius. Jakarta.

 

Radar Madiun. 2014. HIV/AIDS Renggut 100 Nyawa ; Kabupaten Madiun Peringkat 10 Jatim. 29 Maret 2014. h6.

 

Tim Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. 2016. Panduan  Pengabdian kepada Masyarakat Tahun  2016. Akademi Keperawatan Madiun. Madiun.

 

 


Print BeritaPrint PDFPDF

Berita Lainnya



Tinggalkan Komentar


Nama *
Email * Tidak akan diterbitkan
Url  masukkan tanpa Http:// contoh :www.m-edukasi.web.id
Komentar *
security image
 Masukkan kode diatas
 

Ada 0 komentar untuk berita ini

Forum Multimedia Edukasi  www.formulasi.or.id

JADWAL MATAKULIAH 20161

JADWAL MATAKULIAH SEMSETER 20161 GANJIL TAHUN AKADEMIK 2016/ 2017 DAPAT DI UNDUH

Diterbitkan pada: 2016-09-04 Oleh: Ali Haidarillah

Perkuliaan Semeseter Genap

pada tanggal 2017-02-20
Tempat : Akademi Keperawatan Dr. Soedono Madiun
Keterangan : Perkulihaan Semester Genap di mulai 20 Februari 2017 dimohon untuk registrasi 13 -19 Februari 2017 dan membayar spp.. untuk pembayaran bisa dilakuakan via transfer an. Penerimaaan Akper Madiun Rek. 0051033183 Bank Jatim Kcp. Madiun

Pendaftaran PMB AKPER

pada tanggal 2017-03-01
Tempat : Akademi Keperawatan madiun
Keterangan : Pendaftaran PMB AKPER Dr. SOEDONO Belum dibuka.. informasi lebih lanjut akan disampaikan via web

www.m-edukasi.web.id blog guru
241627 Total Hits Halaman
84971 Total Pengunjung
53 Hits Hari Ini
15 Pengunjung Hari Ini
1 Pengunjung Online